Sabtu, 05 Mei 2012

Cerpen: Jagung dan Ubi

Hanya sekedar ingin berbagi cerita yang didasarkan dari kenyataan yang biasa terjadi, kadang nampak tak masuk akal karena dunia memang aneh. Begitulah kenyataan.


Jagung dan Ubi

Di suatu negeri antah berantah, hiduplah dua orang makhluk yang hidup di tempat yang terpisah (walaupun tidak begitu jauh) dan tidak saling mengenal. Mereka bernama Ubi dan Jagung. Nasib Ubi dan Jagung, entah hanya kebetulan, mirip sekali. Ubi dan Jagung adalah anak yatim, ayahnya sudah meninggal dunia dan mereka adalah anak tunggal. Selain mereka dan ibunya masing-masing, mereka tak punya siapa-siapa lagi. Ubi bekerja sebagai pemulung sampah sedangkan Jagung seorang tukang becak. Penghasilan mereka pas-pasan untuk sekedar makan. Mereka berdua belum menikah, maklum usianya baru menginjak dua puluh satu tahun.

Ubi adalah pekerja giat, biasanya delapan belas jam sehari ia bekerja memulung sampah dan menjualnya ke pengumpul. Penghasilannya rata-rata delapan ribu rupiah sehari. Dengan uang itu ia bisa makan cukup dengan ibunya, Bu Ubi. Ubi bukanlah seorang pemimpi, walaupun kadang agak jarang ia juga menghayalkan punya kehidupan yang lebih baik, namun ia tak punya obsesi besar untuk meraihnya. Maklum, ia sadar kemampuannya tidak ada. Ia bersekolah hanya sampai kelas tiga Sekolah Dasar Palawija. Walaupun hidupnya pas-pasan, ia tatap bersyukur pada Tuhan atas yang ia dapatkan tiap harinya, walaupun ia tidak pernah meminta lebih.

Sedikit berbeda dengan Jagung, ia adalah seorang tukang becak yang rajin dan ulet, namun ia saja yang memang selalu sial. Kadang ia narik penumpang, setelah tujuan dekat penumpangnya kabur lompat dari becak, ada yang pura-pura kencing dan tidak kembali, ada bayar kurang langsung kabur, ada pula yang membayar pakai golok. Penghasilannya rata-rata empat puluh ribu sehari, tapi itu belum setoran sama yang punya becak, lima puluh persen. Belum lagi uang ini itu, pajak ini itu, dan ini itu. Jagung adalah orang (orang tanaman, bukan manusia) yang taat dan sabar. Tapi walaupun sabar, ia memang tetap mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Sering ia berdoa pada Tuhan minta diberikan rezeki yang berlimpah, tapi tak kunjung juga rezeki itu datang. Jangankan berlimpah, tambahan secuil pun nyaris tidak ada, mungkin belum waktunya.

Suatu hari, kejadian serupa menimpa keduanya. Ibu mereka jatuh sakit. Sakitnya sangat parah dan harus segera dioperasi. Ubi dan Jagung kalang kabut tak kentut-kentut. Operasi kan biayanya mahal, dari mana mereka dapat uang, makan saja pas-pasan. Ubi dan jagung pusing sekali. Seraya memeras kain pel, mereka memeras otak bagaimana cara mendapat banyak uang sesegera mungkin.

Malamnya, saat mereka tertidur, Setan Terong Panjang masuk dalam mimpi mereka. Dalam mimpi Ubi dan Jagung, Terong Panjang berkata, “Hei, kamu mau dapat uang banyak kan, hahahaha....” “Curilah kerbau milik Pak Kencur, lalu jual biar bisa operasi ibumu. Curilah besok malam, karena besok malam ia akan keluar. Jangan takut, asalkan tidak tertangkap basah kamu pasti tidak akan di curigai, hahahaha....!”

Esok paginya, saat Ubi dan Jagung terbangun, mereka memikirkan mimpinya semalam. Jagung ingin sekali menolong ibunya. Ia ingin agar ibunya sembuh, ia tak mau kehilangan ibunya. Setelah pertimbangan panjang, ia akhirnya pergi ke rumah Pak Kencur, mencuri kerbau. Dilihatnya banyak kerbau di sana. Kalau dicuri satu pasti tidak ketahuan, pikir jagung. Lalu diambilnya kerbau yang bokongnya belang putih, lalu dijualnya. Kerbau itu dihargai sepuluh juta, cukup untuk biaya operasi. Namun secara tak sengaja, Jagungwati, pacarnya jagung melihat Jagung. Ia tahu Jagung tidak punya kerbau. Pasti ada yang tidak beres. Ia pun mengamati dan membuntuti Jagung. Setelah Jagung keluar pasar dan ke jalan setapak yang agak sepi, Jagungwati menghampiri Jagung. Jagung kaget, ia ketakutan.

“Kulihat tadi kamu jual kerbau, kerbau siapa itu, Gung?” Jagung hanya diam ketakutan, melihat tingkah Jagung, Jagungwati makin yakin. “Kenapa diam, Gung? Ayo jawab! Kerbau itu punya siapa?!”

Jagung manjawab gelagapan, “I, i, i.....tu kerbau......”

Jagungwati membentak, “Kerbau siapa! Kamu nyuri kan? Ayo jawab!”

Jagung yang sebelumnya belum pernah mencuri itu ketakutan dua pertiga mati. Ia tidak tahu harus bilang apa, lalu tiba-tiba Jagungwati kembali membentak, “Kamu nyuri kan?”

Dengan ragu Jagung mengiyakan. Jagungwati lalu berkhotbah, “Aku tahu ibumu sakit dan butuh biaya yang mahal. Tapi kamu harus tetap tabah, tidak boleh berbuat dosa. Kamu harus mencari uang yang halal untuk menolong ibu kamu. Ini hanya cobaan dari Tuhan, Gung. Jangan karena cobaan kamu malah berbuat dosa. Kalau kamu mau berusaha keras dan berdoa, aku yakin kamu dapat menolong ibu kamu. Aku akan membantu kamu mencari uang, kalau kita mau sabar, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluarnya. Sekarang cepat kembalikan kerbau itu ke pemilikinya.”

Jagung sadar, yang diperbuatnya salah. Ia lalu memeluk Jagungwati dan berterima kasih. Mereka berdua tersenyum. Jagung lalu membeli kembali kerbau itu, dengan ongkos tambah, lalu diam-diam ia mengembalikan kerbau itu di umah Pak Kencur. Jagung bekerja giat mencari uang secara halal. Dua puluh empat jam sehari ia mengayuh becak, untuk menolong ibunya. Jagungwati kerja sambilan jadi tukang cuci di rumah orang, untuk membantu jagung mencari uang.

Di lain sisi lain sudut, Ubi masih terduduk berpikir. Kemudian ia kentut, kentutnya bau sekali, ia saja sampai mau muntah, tapi rasanya jadi lega kalau sudah keluar. Ubi lalu tersentak, kentut, bau, lega lalu bau hilang seolah membawa ilham baginya. Segera ia berpikir. Apakah ia betul-betul mencintai ibunya. Apakah dirinya tidak rela menanggung dosa demi menolong ibunya? Apakah dirinya lebih mementingkan amalnya daripada nyawa ibunya? Jika ia memang sangat mencintai ibunya, ia harus mendapatkan uang. Setidaknya jika ia mencuri kerbau, ibunya bisa sembuh dan ia bisa semangat bekerja lagi. Jika uangnya sudah cukup, ia akan mengganti kerbau yang dicurinya, dan dengan ikhlas menerima hinaan dari Pak Kencur, asal hal ini tidak diketahui ibunya, agar tidak menambah beban ibunya. Ataukah ini memang skenario Tuhan? Ya, pasti begitu, pikir Ubi.

Ubi pun membulatkan tekadnya, ia pergi mencuri kerbau di rumah Pak Kencur, diambilnya kerbau yang bokongnya belang putih, lalu dijual. Kemudian ia meminta pada pihak rumah sakit untuk segera mengoperasi ibunya. Nyawa ibunya tertolong. Di lain pihak, Jagung yang semangat mengumpulkan uang tiba-tiba kaget sewaktu menjenguk ibunya. Ia terlambat mencari uang, ibunya telah tiada. Ia menangis sejadi-jadinya. Besoknya terdengar kabar Jagungwati jadi gila setelah diperkosa ramai-ramai oleh anak-anak dan ponakan-ponakan majikannya. Ia tambah sedih, tambah stress. Ia hanya bisa menangis.

Setelah ibunya sembuh, Ubi bekerja giat mengumpulkan sampah. lalu tiba-tiba muncul ide membuat kerajinan dari batang-barang bekas. Akhirnya Ubi dan ibunya membuka usaha pembuatan kerajinan dari limbah. Usahanya sangat maju. Empat bulan kemudian, Ubi telah memiliki cukup uang untuk mengganti kerbau Pak Kencur. Dibelinya kerbau montok dan dibawa ke rumah Pak Kencur, ia siap menerima cacian dari Pak Kencur. Ternyata dugaannya salah, Pak Kencur tidak marah, ia justru menagis mendengar cerita Ubi. Ia menerima kerbau itu dengan senang hati dan memaafkan Ubi setulus hati. Ubi tersentuh, ternyata Pak Kencur orangnya baik. Ternyata jalan pikirannya dulu tidak salah, atau, memang benarkah ini skenario Tuhan? Ia bersyukur, begitu bersyukur, tak lupa juga ia berterima kasih pada Terong Panjang. Kini usaha Ubi semakin besar, ia telah mempekerjakan delapan orang, karena orderannya semakin besar. Ia telah menikah dengan seorang Ubi yang cantik yang bernama Miyubi. Ubi dan keluarganya hidup bahagia.

Di sana, Jagung terduduk sendiri.......



Skaga
Blitar, 29-08-2008



Mengapa kita sering terlalu menyalahkan pencuri? Lalu kapan kita menyalahkan diri kita sendiri, kok mau-maunya jadi korban pencurian? Pencuri kan biasanya mencuri karena "diundang"? Tidak perlu takut akan nasib buruk, tetapi selalulah takut melakukan sebab yang dapat memberikan akibat buruk. Kita tak akan mendapatkan apapun yang bukan nasib kita. Bukankah begitu?


8 komentar:

  1. hahahaha adminnya kerennnn ....
    yg sy senang dari ceritanya adalah nama keren dari istri pak ubi haha, sedikit lagi namanya mirip salah satu artis jepang terkenal itu lho haha

    BalasHapus
  2. hahaha blog admin ini menyenangkan ... dan sesuai namanya yg saya suka "paradoks" , selera humornya juga kereeen ... semoga dpt berbagi ilmu ...

    BalasHapus
  3. kak, kurang mengerti ka hikmahnya... kacau ki pemikiranku

    BalasHapus
  4. Jagungwati goblok!!!
    Gara2 dia ibunya jagung meninggal, karena dia nyaranin jangan mencuri dia malah gila duluan -_-

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


Perhatian! Semua tulisan pada blog ini merupakan karya intelektual admin baik dengan atau tanpa literatur, kecuali disebutkan lain. Admin berterima kasih jika ada yang bersedia menyebarkan tulisan-tulisan atau unggahan lain di blog ini dengan tetap mencantumkan sumber artikel. Pemuatan ulang di media online mohon untuk diberikan tautan/link sumber. Segala bentuk plagiasi merupakan pelanggaran hak cipta.