Minggu, 09 September 2012

Olimpiade Sains Nasional 2012 dan Cerminan Pendidikan di Indonesia

Bulan lalu saya diberi kepercayaan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengajar peserta pembinaan OSN bidang astronomi. Pesertanya ialah siswa-siswi yang lolos seleksi provinsi yang kemudian akan melanjutkan kompetisisi di tingkat nasional. Karena itu, murid bimbingan saya cuma ada dua, tetapi salah satunya lebih memilih pelatihan dari bimbel khusus OSN. Praktis, terciptalah kelas romantis antara saya dan murid saya dari SMAN 17 Makassar, Arham Zainal Junaid. Puji syukur, ternyata murid sayalah yang berhasil memperoleh medali, yakni medali perunggu. Saat murid saya mengirimkan pesan singkat bahwa dia memperoleh medali, tentunya perasaan saya senang dan terharu. Tak puas, saya pun mengecek pengumuman resminya di http://siswapsma.org, dan saya menemukan hasil rekapitulasi perolehan medali tiap-tiap provinsi.



Lihat? Bagi yang mau hitung, silakan hitung standar deviasinya. Terlihat jelas ukuran penyebaran datanya sangat besar, sangat tidak merata. Tentunya sering kita mendengar berita mengenai sekolah-sekolah miskin di Indonesia. Tapi sekolah miskin ini ada di mana saja, dari Jakarta sampai Papua Barat. Tapi ini bukan masalah sekolah miskin, ini masalah kualitas pendidikan! Tentu sangat jelas bahwa yang dikirim oleh tiap-tiap provinsi adalah siswa terbaik, yang telah diberikan fasilitas pembinaan terbaik oleh dinas pendidikan setempat, dan beginilah hasilnya. Data yang tak terelakkan ini menunjukkan kesenjangan kualitas pendidikan (baik pendidik, fasilitas, maupun informasi pengetahuan) yang begitu besar antara daerah Jawa, Sumatera, dan Bali (kecuali Bengkulu, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau) dengan daerah di wilayah timur (lihat Sulteng, Sultra, Sulbar, Gorontalo, Kalsel, Kalbar, NTT, Maluku Utara, Papua Barat). Tidaklah aneh jika memang kualtas di daerah pusat lebih tinggi dari daerah timur, tapi ini sudah ironis namanya.



3 komentar:

  1. Hasil OSN menjadi cerminan kualitas pendidikan di Indonesia, ini saya setuju, memang hasil OSN bisa dikatakan murni dan (mungkin) bebas dari praktek2 kecurangan pendidikan.

    Seperti disebut di atas, yang ironis adalah perbandingan nilai OSN bagi siswa terbaik di tiap wilayah, dari hasil OSN (bidang Astronomi) yang boleh dikatakan murni, (saya belum mengecek di mata pelajaran OSN yang lain). Kalau disebut persaingan sepertinya bukan, ya, saya setuju dengan istilah pada artikel di atas: "kesenjangan kualitas pendidikan"

    Well, apa ya solusinya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Pak Mariano, terima kasih sudah berkunjung..

      Kalau ditanya solusi saya juga belum menemukan, kecuali usaha kecil untuk menyisihkan waktu membuat buku gratis yang bisa diunduh semua orang, atau seperti yang Anda juga lakukan, memposting pembahasan soal untuk umum. Tapi teman saya punya ide memindahkan ibukota negara ke daerah timur. Ha..ha...

      Hapus
  2. Banten bisa masuk no urut 4 mengalahkan bekas propinsi induknya Jawa Barat?
    dugaan saya karena banyaknya perumahan kelas atas dengan skala besar (mirip kota) sehingga banyak sekolah internasional dan murid pintar yang berkumpul didaerah ini, jadi bukan karena kinerja pemerintahannya lebih baik dari jawa barat

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


Perhatian! Semua tulisan pada blog ini merupakan karya intelektual admin baik dengan atau tanpa literatur, kecuali disebutkan lain. Admin berterima kasih jika ada yang bersedia menyebarkan tulisan-tulisan atau unggahan lain di blog ini dengan tetap mencantumkan sumber artikel. Pemuatan ulang di media online mohon untuk diberikan tautan/link sumber. Segala bentuk plagiasi merupakan pelanggaran hak cipta.